Tagihan SPP
Mencoba untuk bertanggung jawab........Hari itu aku dipanggil
Bapak Kepala Sekolah, karena belum membayar uang SPP selama tiga bulan.
Setelah ditanya berbagai macam, aku jawab dengan berbagai kebohongan.
Akhirnya surat bersampul putih yang ada stempel itu diberikan saya untuk
disampaikan kepada orang tua.
Perasaan takut ada, karena
bermacam pertanyaan dalam hati saya. Surat kubuka, kubaca ...isinya
ternyata rasa takut terbuka jelas. Isi surat tersebut memberikan
penjelasan bahwa saya belum membayar uang sekolah selama tiga bulan,
dalam waktu 15 hari diberikan kesempatan untuk melunasi. Surat
kumasukkan lagi ke sampul dan aku menyimpulkan hari itu tidak pulang
karena takut dimarah bapak.
Aku mampir ke rumah kos
temanku. Setelah makan seadanya aku meminjam baju kaos dan memberitahu
temanku, bahwa aku mau ke Jakarta selama seminggu. Ku buat surat izin
untuk disampaikan pada pihak sekolah. Surat kutitipkan temanku dan
berangkatlah aku ke stasiun untuk tujuan ke Jakarta, resiko apa yang
akan kutemui tidak terbersit sedikitpun dalam benakku. Aku nekat, tanpa
tiket dan uang mencoba untuk ke kota besar yang belum pernah aku ketahui
dimana pakdeku bekerja. Yang kutahu beliau di BNI 1946 Jakarta Pusat
hanya karena alamat di kertas.
Setelah hampir tujuh jam,
sepulang sekolah keretapun berangkat kurang lebih pukul 20.00 WIB. Aku
duduk di gerbang keempat dari depan. Kegelisahan awal hadir beberapa
menit kemudian ketika di belakang sana ada beberapa petugas menanyakan
tiket kereta. Disaat memasuki gerbang tempat aku duduk, aku menghindar
menuju kamar kecil. Sepuluh menit berada didalamnya, rasanya kondektur
sudah menuju gerbang depanku, aku mencoba keluar. Plong .........hatiku
terbebas dari perasaan bersalah. Rasa kantuk dan lapar tidak begitu
mengganguku tetapi perasaan gelisah yang terus mendera.
Setelah
dua tiga jam kulalui, ternyata hadir lagi petugas yang melakukan
aktivitas sama seperti tadi. Fikiranku mencoba untuk menuntunku lagi ke
kamar WC, mungkin itu cara yang tepat untuk menghindari petugas
tersebut. Dua kali aksiku tidak menggagalkan niatku sampai Jakarta.
Mendadak ketemu hal yang sama dikala terjaga dari rasa kantuk. Petugas memasuki gerbangku untuk yang ketiga kalinya.
Aku
mencoba untuk menuju gerbang belakangku disana berhadapan dengan
kondektur yang sedang melakukan tugasnya. Di depan mereka aku ditanya, "
Mau kemana dik ? " dengan kutenangkan perasaanku aku menjawab dengan
santai, " Mau minta minum pak, ibu dan bapak disana..... " sambil
berjalan aku berlagak tak bersalah. Nampaknya masih juga mujur, lolos
lagi.
Tidak tahu sudah sampai mana, kurang lebih waktu itu
sekitar pukul tiga pagi. Mataku ngantuk tetapi aku takut ketahuan
kondektur sebagai penumpang gelap. Kuputuskan naik ke atas gerbang.
Disela-sela gerbang ada deklit yang saya dengar biasa dipakai untuk
anak-anak stasiun bila bepergian. Aku duduk disana.
Berapa menit
mata ini terpejam, kudengar suara orang pada turun, ternyata stasiun
Gambir. Akupun ikut turun, entah masih jauh atau dekat ke alamat yang
kucari tetapi perasaanku mengajakku untuk mengikuti kegiatan penumpang
lain. Kuperhatikan para penumpang berbaris menuju pintu keluar, disana
disambut petugas pemeriksa tiket. Aku tidak buru-buru keluar.
Kumanfaatkan duduk di peron berfikir harus bagaimana
sambil menahan rasa perihnya perut dan kepala sedikit pening.
Inspirasi datang, ketika anak usia 9 tahunan menjajakan koran.
Kuajak
duduk dan ngobrol sebentar menanyakan sudah berapa lama sebagai
pengecer koran, sekolah kelas berapa dan berbagai hal yang mungkin bisa
membawa saya bisa keluar dari peron stsiun tanpa kecurigaan petugas.
Akhirnya
kucoba tawarkan cara untuk menjajakan koran agar cepat laku. Anak itu
percaya. Kucoba separuh sambil menuju pintu keluar, kutawarkan kepada
penumpang yang akan keluar stasiun. Aku berlari menunggu di luar pintu.
Dalam hati tidak lakupun yang penting saya dengan mudah berada di luar
stasiun tanpa kendala sedikitpun. Setelah berbasa basi menawarkan koran
pagi itu kepada penumpang yang keluar masuk stasiun, ternyata ada 7
eksemplar laku kujual. Anak pemilik koran tadi ada juga pemasukan.
Kuserahkan
hasil yang kuperoleh dan melanjutkan rencana menuju alamat, namun
dengan langkah apa kesana. Uang paling hanya cukup untuk sekali makan,
itu saja yang tersisa dari uang sekolah yang tidak kubayarkan. Kutemui
tukang bajai dengan gaya yang meyakinkan, kutunjukkan kertas yang berisi
alamat, kuceritakan bahwa bisa tidak bisa harus kutemui bapakku
(seharusnya pakdeku. red) dengan alasan sudah tiga bulan tidak pernah
pulang. Ternyata bohong enak looh, sebab berkali-kali bohong bisa
membuat orang lain kasihan dan mau mengantarkan aku ke tujuan.
Aku
diantar sampai halaman parkir tempat pakdeku bertugas. Dengan berbekal
pakaian seragam sekolah yang kusut dan berbau, tanpa mandi juga tidak
gosok gigi harus kuberanikan menemui bebarapa orang yang berpenampilan
parlente. Rasa takut, malu, lapar, sakit, dan berbagai macam perasaan
kusingkirkan hanya ingin satu tujuan, ternyata resepsionis yang
didampngi Satpam dan Polisi mau menerimaku dengan ramah.
Diantarkan aku menemui pakdeku dengan pelayanan yang sangat baik tak ada kesan jelek yang kulihat.
Setelah
mempersilakan aku menunggu di tempat duduk bapak Satpam yang usianya
sekitar 45 tahunan itu meninggalkanku. Perasaan bingung dan takut mulai
mencabik-cabik batinku. Dibawah sana tidak lagi terlihat bajai yang
kutumpangi, padahal aku janji setelah diberi uang bapakku (seharusnya
pakdeku Red) akan kubayar sesuai perjanjian. Tetapi sopir itu tidak
terlihat baik di lapangan parkir atau di jalan. Menunggu dimana ?
Mendadak aku ditanya seseorang mau menemui siapa. Saya disuruhnya masuk.
Pakdeku
menerima dengan roman muka masam, mungkin menahan bermacam perasaan.
Aku sudah siap itu semua, karena sudah kuyakini bahwa aku bisa membuat
malu pakde dengan penampilanku yang tidak rapi, bau dan acak-acakan.
Seperti dikejar waktu dan pekerjaan,pakdeku segera mengajukan pertanyaan
" Ngapain kemari Jok ? ", sulit aku menjawabnya hanya rasa takut dan
malu yang membuatku mataku menangis. Disela tangis itu aku menjawab
tersendat " Mau minta uang pakde untuk bayar uang sekolah ". Tanpa
jawaban, pakde meninggalkanku. Hanya sekitar dua menit sudah keluar dan
memberiku satu amplop. " Mampir dulu ke Bogor, bawa ini. Jangan pulang
sebelum pakde sampai rumah. Dah sana......! "
Setelah kubuka
meyakinkan didalam amplop itu berisi uang aku keluar. " Maaf pakde,
terimakasih ...." Kucium tangan beliau dan menahan air mataku mengalir.
Malu yang berlebihan.
Kuambil satu lembar uang sepuluh
ribuan, yang belum pernah saya temui seusiaku waktu itu ( 18 tahun )
untuk kugunakan diperjalanan, yang lainnya kumasukkan kedalam kaos dalam
karena aku tidak bawa apa-apa kecuali kantong plastik berisi satu baju
kaos.
Aku kembali Ke stasiun Gambir naik bajai lagi tetapi
bukan bajai yang tadi kutumpangi. Melanjutkan naik KRL ke Stasiun
Bogor. Tanpa halangan yang berarti aku sampai ke rumah pakde.
Budheku
yang dirumah sudah mengetahui aku mau kesini. Nampaknya juga kurang
bersahabat. Aku tidak merasa nyaman, sampai makanpun kurang terasa enak.
Saya pingin tidur melepas seluruh perasaan.
Pukul 21.00
pakdhe sampai rumah. Karena siang sudah tidur agak lama, malam itu aku
sempat ngobrol setelah pakdheku makan. Ditanya banyak hal, kujawab
dengan jujur tanpa aku tutupi. Pakdhe dan bu dheku bisa memaklumi.
Beberapa nasehatpun bisa ku peroleh. Sebagai pegangan yang sampai saat
ini selalu kucoba untuk kehidupanku dan keluargaku. Kejujuran amat
penting, apapun resikonya. Semoga cerita yang pernah kualami ini juga
bisa jadi referensi anda.
sampai rumah, bapak sudah siap pasang
kuda-kuda. Menungguku pulang, mungkin sesuatu yang menjemukan atau
menahan amarah yang begitu lama karena empat hari tepatnya aku sampai
Klaten.
Mungkin begitu kebanyakan orang tua, belum
memasuki pintu tinju bapak sudah mendarat di pipi kiriku. Aku
terpelanting jatuh. Belum sempat bangun kaki beliau menendang paha
kiriku. Aduuuuuuuuuuh aku mau berdiri tidak bisa. Dijambaknya rambutku
ditariknya ke kamar mandi dan diguyur air diember bekas cucian piring.
Entah apa yang ada dalam benak bapak, kenapa beliau begitu marahnya.
Padahal belum pernah sekeji itu bapak, meskipun sekali dua kali aku
pernah kena tinjunya.
Setelah aku basah kuyup beliau masuk
rumah. Sambil menahan rasa sakit aku langsung nimba air sumur kuguyur
seluruh tubuh. Ibu mendekatiku sambil membawakan handuk, sabun dan sikat
gigi. Sambil menggerutu. Plastik yang didepan pintu kuberitahukan ibu,
kalau ada uangnya titipan pakde buat bapak. Ibuku menghampiri dan
memungutnya. Sambil menunggu selesai mandi, ibu duduk dibawah pohon
pepaya ( sekarang jadi ruang dapur )
Belum ganti pakaian
aku temui bapak. Aku minta maaf, bapak diam tidak menjawab. Tetapi
beliau kelihatan ada wajah menyesal. Aku duduk di kaki beliau tanpa
bicara sepatahpun. Syukurlah bapak berkenan bicara. Beliau memegang
pundakku. " Yo wis rapopo, wis ndang nganggo klambi....."
Di
meja makan sudah ada nasi, sayur tomis kangkung dan belut goreng. Aku
disuruhnya makan oleh ibu setelah ganti baju. Sambil makan ibu memberiku
nasehat, kalau mau kemana harus minta izin. Kalau ada apa-apa orang tua
mengetahui. Kata ibu, bapak kemarin dapat telepon dari kantor, katanya
aku ke Jakarta. Ibu dan bapak terheran-heran disamping uang saku
darimana juga mengenai tujuanku ke Jakarta. Pakde juga bilang nitip uang
untuk beaya sekolahku 100.000. ( waktu itu SPP ku Rp.450,- / bulan )
separuhnya untuk simbah.
Saya menyadari bapak memang tipe pemarah,
apalagi kalau perasaan beliau tersinggung. Rupanya berita yang bapak
dengar dari pakde itu membuat beliau tersinggung berat. Tetapi ya
syukurlah bapakku juga tipe penyayang. Hari ini boleh marah tetapi hari
besok cepat kembali normal. Uang sekolah yang belum terbayar, tidak
boleh saya bawa. Bapak akkan ke sekolahku membayarnya sendiri katanya
bapak mau minta maaf juga dengan kepala sekolah.
Sepulang
sekolah bapak bercerita tentang pertemuannya dengan Kepala Sekolah.
Beliau minta maaf kalau tiga bulan belum membayar bukan kesalahan anak,
tetapi ketidakmampuan orang tua ( Itu yang disampaikan bapak kepada
bapak Kepala Sekolah )
................... yach bagaimana kita bisa menjadi bapak yang bijak ???????????? ayo belajar.
Buruh Lepas
Aku pernah dimintai tolong untuk ngecat rumah, meskipun tidak
terampil tetapi hasilnya cukup memuaskan buktinya hari ini aku diajak
kerja memborong ngecat RSUP Tegalyoso Klaten.
Hari pertama sampai
hari kelima, tugasku membuang cat tempat tidur pasien dengan air soda
dan mengampelas sampai bersih. Adapun yang ngecat temanku. Entah ada apa
hanya dua hari ketemu, selanjutnya tidak pernah nongol lagi akhirnya
pemborongku terjun langsung mengecat barang-barang itu.
Hari ke
enam aku disuruh bergabung ke ruangan pasien ngecat tembok dengan
kompresor, setelah alat-alat di dalamnya saya keluarkan sementara pasien
yang ada disitu untuk sementara dipindahkan ke ruangan lain.
Yang
paling berkesan yaitu bukan hanya rambut di kepala, kumis dan alisku
berubah putih kena uap cat, sehingga setiap keluar ruangan banyak orang
tersenyum memperhatikanku. Beruntungnya banyak juga kerja disitu,
makanan yang ada di almari kebanyakan diikhlaskan untuk dimakan para
buruh cat dan sisanya selalu ada, bisa dibawa ke rumah untuk oleh-oleh.
Hampir setiap hari aku pulang seperti orang sukses. Pulang kerja dan oleh-oleh bisa membuat adik-adikku gembira.
Ada
juga yang memberiku sugesti keberanian, disaat memindahkan mayat
keruangan lain karena kamar mayat akan dibersihkan.Hiiiiiiiii. Kakinya
yang dingin dan kaku selalu mengingatkan sehingga berakibat mengurangi
gairah makan.
Empat belas hari kerja buruh ngecat selesai, kerjaan apa lagi ya.........?
Ada
program pengerasan jalan di kampungku. Namanya rezeki......... Aku
diajak ikut kerja disitu. Spiritas kerja begitu kuat terdorong ingin
meringankan beban bapak.Jam 07.30 sudah dimulai sampai jam 16.00, diberi
istirahat 1 jam dari jam 12.00 sampai jam 13.00
Berawal
dari pegang cangkul untuk membuat adonan, sampai pegang mesin molem yang
hanya berdiri dibelakang setang yang akhirnya diminta untuk mendamping
anak direktur PT Rahayu dari Surakarta itu naik mobil mengambil pasir,
semen dan koral. Tugasku hanya mengawasi, menghitung dan menemani sopir.
Tiga
bulan dua kampung selesai dikerjakan pengerasan jalan. Pohon-pohon yang
ditebang, akarnya harus dibongkar. Disamping kerja disitu , kayu-kayu
yang aku tebangi boleh dibawa pulang. Tiap hari bawa pulang kayu dan
tiap hari Sabtu gajian.
Setiap malam minggu alhamdulillah bisa
ngajak makan mie ayam bareng bapak ibu dan adik-adikku. Terus kalau udah
habis kerjaan apa lagi yang harus aku kuperbuat ?
Seminggu
hari sebenarnya bukan hari libur bagiku, sebab bila tidak ada pekerjaan
aku merasa bingung. Bila kondisi jiwaku sedang goyah aku bermain ke
tempat mas Slamet untuk minta berdagang terompet.
Waktu
itu aku bukan anak nakal, sehingga banyak orang menaruh belas kasihan.
Aku bukan tipe peminta-minta, karena setiap kali aku diberi karena aku
bekerja. Meskipun tanpa uang, aku diizinkan untuk memperjualkan
dagangan.
Berjualan terompet..........laku atau tidak
bukan urusan fikiranku, tetapi keinginan untuk menghilangkan rasa tidak
nyaman menganggur.
Bukan sebuah basa-basi. Dengan
menjinjing kardus kecil yang didalamnya barang dagangan dan tangan kanan
memegang terompet jadi yang siap dijual.
Naik bus selalu
gratis, bukan hanya Candi Prambanan tetapi Gembiroloka, Borobudur dan
meski hanya cukup sekali jalan, aku berani sampai Bonbin Wonokromo
karena saya yakin bisa pulang bila sambil berdagang.
Tidak
selamanya manusia selalu beruntung adakalanya seharian kerja hanya satu
dua dagangan laku terjual. Hal itu pernah saya alami dari jam 08.00
berangkat jam 17.00 pulang tanpa makan, hasil hanya cukup untuk naik
bis. Haruskah aku berhenti ? Lalu apa yang bisa aku kerjakan ? Dengan
apa aku bisa membahagiakan bapak ibuku ?
Aku mencoba berjualan terompet..............
Sejak
tanggal 26 Desember 1983 sampai tanggal 2 Januari 1984, aku tidak
pernah pulang. Satu setel pakaian yang kupakai itu aku ditempat tetangga
( Mas Slamet, pedagang terompet )
Aku sangat yakin bapak ibuku
bingung. Mengapa..........aku memang udah gak betah di rumah. Ingin
membantu mencangkul, bapakku gak pernah puas usahaku mencangkul, karena
bukannya mencangkul sebagaimana yang diharapkan bapak tetapi malah
acak-acakan. Bantu ibu ........rasanya juga kurang pas karena ibu
tidak/belum merasa membutuhkan. Di rumah serba salah, akhirnya harus
mengambil sikap....HARUS KERJA.
Kebetulan aku ditawari
jualan terompet ke Jakarta. Budaya tahun baru dan terompet sebagai khas
tahun baru. Aku menyanggupi karena aku ingin mencoba mencari uang. Maka
hari itu tanggal 26 Desember 1983 adalah hari pertama aku mulai
mempersiapkan barang dagangan yaitu terompet yang bahan bakunya dari rol
bekas obras yang dibeli mas Slamet di Mahditex sebelah selatan stasiun
Kereta api desa Bendo, Buntalan Klaten.
Tanpa kenal lelah
aku siapkan barang itu dari menggergaji rol (terbuat dari plastik)
sampai mengecat. Begitu pula karton yang juga dari rol obrasan baju.
Tiga hari tanpa istirahat selesailah sudah 500 terompet siap dijual.
Kutata
serapi mungkin, sehingga mudah membawanya. Dimasukkan ke karung
plastik, kuangkut berdua menuju Bendo gantungan Tujuan Gombong. Start
dari Klaten- Gombong tanggal 29 Desember 1983. Semalam di Gombong (
Rumah mertua mas Slamet ) selanjutnya perjalanan ke Jakarta, tujuan
MONAS.
Terompet disimpan di WC kereta api. Tiket kereta salam
tempel, damai dengan petugas. Segala urusan aku tidak pernah tahu baik
modal bahan, transport dan makan aku tahu jadi. Tugasku nunggu karung
berisi terompet dan tidur di WC bersama barang-barang itu. Tidak pernah
tahu hiruk pikuk dalam perjalanan, entah berapa jam aku tidur setelah
beberapa hari kurang beristirahat.
Hari pertama mengenal
Monas dari dekat. Matahari belum sepenuhnya kelihatan hanya cahaya
kemerah-merahan di langit menyambut datangnya pagi.
Di lapangan
monas, waktu itu pohon pinang sebagai penghias terasa indah sambil
nenikmati minum susu sembari duduk-duduk melepaskan penat menunggu
detik-detik Tahun baru.
Waktu kumanfaatkan sebaik-baiknya untuk merangkai bahan - bahan yang kami tata, untuk dijadikan dagangan siap pakai.
Mas
Slamet memanfaatkan untuk istirahat, gantian sambil menunggu malam.
Pukul 16.00 nampaknya tenagaku terasa habis, aku bergantian istirahat.
Tidak terasa perut mual, hanya kantuk yang amat sangat menghinggapi perasaanku. Tidak terasa malam sudah mulai tiba.
Terompet kujajakan di pinggir jalan dilapisi kain plastik 2 x 3 meter. Kami jaga berdua.
Pukul
19.00 pengunjung sudah mulai berdatangan. Bak air hujan turun dari
langit, para pengunjung sudah mulai membeli silih berganti.
Di hari-hari biasa terompet dijual Rp.250,- di Tahun baru ini ternyata Rp.500,- banyak yang membeli.
" Berapa bang ? " tanya seorang gadis kepada kami. " Rp.500,- mbak...." " Aku minta satu bang, uangnya biar kakak yang bayar "
Akupun bingung kenapa menjawab " ya "
kakak mana yang membayar, sekian banyaknya orang yang mana yang dimaksud kakak ? eh ternyata aku ketipu.
Anak-anak kecilpun juga pinter-pinter. " Bang boleh aku nawar bang ? boleh Rp. 200,- ? " " Gak boleh dik ........"
Baru
konsen menanggapi anak yang menawar, disudut sana ternyata pada
ngumpetin. Wah ternyata copet penerus masa depan. Kecil-kecil ternyata
sudah pada terampil
Meskipun ada keuntungan, resikopun
juga mendampingi. Semakin malam mania terompet semakin banyak. Hargapun
kami naikkan, memanfaatkan kesempatan. Kuangkat dengan harga Rp.750,-
ternyata laris. Pukul 03.00 dini hari seluruh terompet terjual habis.
Aku
mendapat bagian uang Rp.125.000,- uang ditahun 1984. Jam 06.00 pagi
Awal Januari 1984 kutinggalkan Jakarta mengejar kereta pagi.
Di
kereta api, sejak aku naik sampai kereta berhenti di Gombong aku tidak
pernah tahu. Mati, pingsan atau tidur..........yang pasti begitulah
kondisiku waktu itu.
Pendaftaran CPNS
Sejak lulus sekolah nampaknya satu cita-cita yang tersirat
adalah bekerja. Sudah dua kali pendaftaran CPNS guru, tetapi belum juga
berhasil. Alasan waktu itu periode lulusan yang diterima adalah lulusan
tahun sebelumku.
Ada kabar kalau di Kanwil Jateng membuka pendaftaran CPNS guru, aku bertiga berangkat kesana.
Namanya
saja anak-anak, ternyata Semarang merupakan tempat yang amat jauh
..........bayangan waktu itu. Aku mencoba untuk menengok berita itu
langsung.
Setelah hampir lima jam perjalanan sampailah
kami di Semarang. Beberapa menit perjalanan setelah turun dari Bis
sampailah tujuan kami yaitu Kantor Dinas Propinsi Jateng Tengah.
Tidak tanggung-tanggung untuk mendaftarkan diri dalam mencari kerja yang akan kami inginkan adalah ketemu Bapak Kepala Dinas.
Mudahkah
menemui beliau ? Banyak orang di kantor bilang, bapak tidak ada padahal
disitu ada tulisan Kepala Dinas .....ADA. Aku tidak mudah percaya,
sehingga terus mencoba minta diizinkan ketemu.
Ternyata ada yang lewat depanku menanyakan aku mau menemui siapa. Beliau bilang bapak ada saya disuruh masuk.
Tanpa tanggung-tanggung kami bertiga masuk.
Kami diterima dengan baik, ramah dan sangat menggembirakan.
Seperempat
jam kami berbincang-bincang, menghasilkan sesobek kertas bertuliskan
Kepada Sdr Kepala Biro Kepegawaian di Yogyakarta, tolong perhatikan anak
- anak ini. Terimakasih ttd Drs.Karseno.
Wah............ bagai kesiram air hujan, setelah lama kepanasan. Akupun permisi dan segera meninggalkan tempat, Pulang.
Ternyata
The Grazy memang orang bodoh, begitu juga kami bertiga. Mau bepergian
itu bukan hanya persiapan berangkat saja tetapi persiapan pulangnya pun
juga perlu. Yang dibawa kedua temanku uang ke Semarang saja, tetapi
ongkos pulang tidak punya dengan alasan karena kesana mencari kerja.
Sehingga dengan mendapatkan pekerjaan bukan hanya sekedar bisa makan,
tetapi juga bisa pulang.
Apa akibatnya, bisa anda bayangkan. Justru sebaliknya yang didapat. Disamping lapar, sulit dibayangkan bisa sampai rumah.
Aku
memang bukan orang pinter, tetapi keadaanlah yang mendidik kedewasaan.
Kuajak teman-temanku ke Kantor Polsek, disitulah saya minta tolong
diantarkan ke Klaten.
Beliau begitu kasihan melihat kami, langsung
diajaknya kami ke jalan. Dihentikannya bis yang sedang melaju dan
disuruhnya kami masuk. Seperti layaknya penumpang lain, kami juga
diminta membayar. Saya bilang kalau saya yang menyuruh naik ke dalam bis
adalah pak Polisi. Apa jawaban kondektur ? " Kamu itu waras apa gila,
mosok naik bis aja harus minta dibantu polisi, dah turun-turun !!! " Dan
akhirnya kami disuruh turun.
" Kamu itu waras apa gilalalalalala ..." menempel lekat ditelingaku.
Sambil duduk berfikir, suara " Kamu itu waras apa gilalalalalalalalalala....."selalu saja ingat.
Kami
saling menyalahkan, kenapa tidak pada bawa uang. Namun alasan bodoh
yang dipakainya tidak lain kecuali karena merasa yaqin dapat pekerjaan.
Kami
duduk dibawah pohon beringin di Jatingaleh. Haus saja tidak terbeli air
apalagi mikirin makan, tetapi petunjuk mulai ada. Inspirasiku hadir.
Aku berdiri di lampu Bangjo (istilah waktu itu).
Ketika ada truck
berhenti, aku langsung naik, teman-temanku bingung. " Cepat naik !!! mau
pulang gak ? ". Merekapun mengikuti apa yang saya lakukan.
Lampu hijaupun menyala, truck yang kami tumpangipun berjalan.
Tetapi
sekitar seratus meter kendaraan itu berhenti. Dua orang keluar dengan
membawa besi bulat dan pukul besi dengan wajah yang menakutkan
menyuruhku turun.
Aku berteriak lantang " Pukullah aku pak,
pukullah .......aku hanya mau numpang pulang. Kalau bapak tidak
boleh.... pukullah aku."
Aku mencoba meyakinkan, tetapi kami tetap diminta turun.
Sampai
di bawah aku langsung dipegang tanganku. Pukul besi tepat di atas
kepalaku. Kedua temanku diam dalam ancaman anak muda sebayaku yang
bersenjata besi 60 cm-an.
" Pak, aku dari Klaten pak. Cari kerja tidak dapat dan kehabisan ongkos pulang. Kalau memang tidak boleh numpang ya nggak papa."
Pak
sopir nampaknya percaya ucapanku, " Awas kalau kamu bukan orang
baik-baik ........kusembelih !!, udah kamu ikut aku di depan dan dua
temanmu itu biar di belakang. "
Dudukku diapit dua orang
pemilik kendaraandi belakang setir, sedang teman-temanku di bak
belakang. Sambil ditanya banyak hal, rupanya pak sopir bukan type
pemarah. Aku diberi air minum dan tahu goreng yang dibawanya.
Disimpang
Kartosuro, pak sopir menghentikan kendaraannya dan menyuruhku keluar.
Rupanya beliau melanjutkan perjalanan ke Purwadadi.
Beruntung
dengan air seperempat botol dan dua buah tahu goreng bisa membuat
sedikit lega. Kedua temanku pucat pasi.Aku malu minta, apalagi buat
orang lain.
Temanku yang kerja di STO (Sentral Telepon Otomatis) pernah bercerita bahwa telepon coin yang dipinggir jalan sering dibobol.
Keadaan
memaksaku harus mencoba.Inspirasiku hadir hanya ada paku dijalan.
Kuambiil paku dan kucoba. Keberuntunganpun juga hadir disaat yang sangat
kami perlukan. Ternyata tidak perlu tenaga, baut kembang yang kuputar
begitu mudahnya. Uang recehpun kelihatan............aman. Aku bisa
makan, temankupun bisa makan. Kamipun pulang dengan membawa berbagai
perasaan.
Ada banyak sisa untuk meniti masa depan.
Harapan Kosong
Surat dari bapak Kepala Dinas.........dibungkus amplop ada logo
dan kop surat. Tidak hanya melambungkan angan-anganku, tetapi ibu
bapakku seperti ikut terbang ke masa depan yang penuh kemudahan.
Janji sudah kami tentukan, yaitu dua hari sepulangku dari ibu kota propinsi Jawa Tengah itu menuju kota gudeg Yogyakarta.
Setelah kelihatan rapi, berangkatlah kami bertiga dengan membawa berkas yang disarankan bapak Kadin Jateng.
Sekitar satu setengah jam, kami sudah sampai tujuan, Biro Kepegawaian Yogyakarta. Disitu ada tulisan Biro Kepatihan Yogyakarta.
Setelah bertanya dan melengkapi persyaratan, kami dinyatakan diterima. Tujuan ke Fak -fak, Manokwari, Jaya wijaya Irian Jaya.
Surat Izin dari orang tua kami bawa untuk ditanda tangani bapak.
Tidak
ada waktu yang kami sia-siakan. Sesampai di rumah langsung diisi dan
ditanda tangani orangtua, pagi besok sudah berangkat lagi ke Yogyakarta.
Sebulan sejak memasukkan lamaran adalah waktu yang
kami
tunggu. Temanku menjadi tiga orang, empat sekawan berangkat bersama
dengan satu janji untuk menjaga persahabatan apabila sudah di Irian
nanti.
Berkas yang perlu disipkan nampaknya sudah
disiapkan. Dwi sudah menyampaikan persyaratan itu kepada teman baruku,
Slamet. Jaka, Dwi dan Triono semoga slamet sampai tujuan.
Kami
sampai di Kantor Biro Kepatihan. Aku mewakili bertanya kepada bapak
yang ada di kantor itu. Jawaban begitu ingin segera kami temukan. Bapak
Pimpinan belum hadir, kami disuruh menunggu di luar.
Satu jam, dua jam waktu yang panjang untuk sebuah jawaban.
Dipanggilnya kami untuk masuk. Kami menghadap bersama-sama.
"
Begini ya mas..........yang berkeinginan ke Irian kurang dari 20 %,
sehingga untuk sewa pesawat dihitung-hitung rugi. Saya minta bersabar.
Tulis saja alamat kalian kesini ( blangko identitas ) kapan-kapan kalau
ada semangat ke Irian saya beritahu .............."
oooooooooo
gagal lagi, kami tidak lagi ada semangat. Jangankan bergeser dari tempat
duduk. Bicarapun tidak lagi mampu untuk dikeluarkan.......Kami pulang,
tak ada suara seceria tadi sewaktu berangkat.
JURTIK KUD
Dari sekian banyaknya pekerjaan aku memang tidak mencari,
kecuali terompet tempatku melampiaskan kejenuhan. Diawali dari
terompet, kuli bangunan jalan, ngecat Rumah Sakit, Buruh di SMP
Muhammadiyah, Kernet colt Jogja Klaten sampai aku kerja di KUD semua
dikarenakan perhatian tetanggaku yang mungkin merasa menaruh belas
kasihan. Itu semua memang harus aku jalani, karena hati kecilku ingin
jadi guru tetapi jalan kesana belum aku temukan.
Waktu itu
baru dua kali gajian mingguan, borongan bangunan di SMP Muhammadiyah
Klaten sudah selesai,aku terpaksa menganggur lagi. Sepulang dari kerja
bangunan aku belum mandi diberi kabar ibu kalau tadi datang Om Sumadi
(beliau bekerja di Kantor Koperasi Kabupaten Klaten) mencari dan titip
pesan aku disuruh ke rumah beliau bila sudah pulang.
Setelah
mandi aku berangkat ke rumah beliau, ternyata disuruh membantu
menyelesaikan pekerjaan menulis untuk laporan RAT Koperasi Unit Desa
Ketandan I Klaten. Selama empat hari pekerjaan memindahkan angka-angka
dari kwitansi ke buku jurnal selesai. Nampaknya ada luapan perasaan
puas melihat pekerjaanku beliau kemudian memberiku uang untuk jajan.
Sore itu juga setelah aku selesai mandi diajaknya menghadap Ketua KUD
sekaligus beliau meneger perusahaan kapas di KUD tersebut.
Setelah ketemu Bapak Soebardjo, beliau menawarkan pekerjaan di KUD tanpa menolak akupun langsung menyanggupi.
Minggu
pertama aku merasa canggung dan agak berhati-hati dalam bekerja,
karena angka yang aku tulis adalah keuangan koperasi sehingga harus
tepat antara nominal di kwitansi dgn angka yang tertera di buku namun
setelah minggu kedua dan selanjutnya sudah mulai terbiasa.
Tiga bulan sudah mulai merasakan hasil, karena tiap bulan pekerjaanku selalu di
teliti
oleh bendahara KUD dan beliau selalu merasa puas. Pekerjaanpun mulai
ditambah disamping konsep yang tertulis di buku, aku mulai dipercaya
untuk memindahkan ke mesin ketik.
Aku dikirim ke Balatkop
( Balai Latihan Koperasi ) Semarang, tepatnya di Srondol Barat selama
10 hari untuk mengikuti Diklat Perindustrian. Dengan sangat disiplin
kuikuti pelatihan agar hasil yang aku peroleh bisa meningkatkan kinerja
di KUD.
Makanan yang disediakan benar-benar mengandung nilai
gizi yang tinggi. Setiap pagi waktu dipergunakan untuk senam sekitar
satu jam. Jam 12.00 sd 13.00 istirahat dilanjutkan sampai jam 16.30
untuk mandi dan sholat. Dimulai lagi pukul 19.30 sampai pukul 23.00.
Sepulang
pendidikan dan latihan, ku ceritakan hasil yng kuperoleh kepada
teman-teman di KUD. Bapak Ketua cukup puas mendengar ceritaku karena
memang waktu itu ada kesempatan untuk pertemuan selama dua jam.
Aku dipindahkan bekerja di bagian listrik, karena unit pelistrikan kurang tenaga.
Selama disitu aku bisa cepat beradaptsi sehingga bisa meringankan beban Ketua Unit Listrik.
Meskipun
hasil sudah aku peroleh dari pekerjaan itu, tetapi kepuasan belum aku
temukan, ingin rasanya jadi guru. Aku mulai malas.
Dua tiga hari
dalam seminggu aku tidak berangkat kerja, menjadi perhatian tersendiri
bagi orang tuaku akhirnya bapak menanyakan penyebabnya mengapa aku
malas-malasan kerja. Kujelaskan pada bapak karena ada perasaan tidak
puas kerja di KUD, keinginanku jadi guru sudah bulat.
Bapak
memberitahu ada teman beliau dari Kodim 0723 Klaten yang mengikuti
transmigrasi ke Sumatera, menurut penjelasannya di sana masih banyak
peluang pekerjaan untuk jadi guru. Gayungpun bersambut, aku mau.
Seperti
orang hebat, aku berangkat diantar ibu-ibu anggota pengajian Nuril
Huda Damaran dengan berkendaraan roda empat. Mereka mengantarkan sampai
agen penjualan tiket di Bendo Gantungan
Mobilpun parkir di depan
rumah. Disaat mundur, bruaaaaaaaaaak bemper belakang menghantam pagar
tembok depan rumah. Tembokpun hancur.
Ibuku mengiringi
perjalananku dengan isak tangis, begitu pula sebagian ibu-ibu terpaku
diam dalam perjalannan. " Ada apa ya ? " tanya hatiku. Saran dan
nasihatpun juga terucap dari bapak-bapak yang kebanyakan sesepuh
kampungku, akupun mengamini, mengiyakan dan mengangguk.
Bagaiamana di Sumatera................?
SUMATERA
Gumarang jaya, bis yang mengantarkan aku dan temanku Dwi
Wuryanto ke Sumatera. Apa dan bagaimana serta dimana nanti merupakan
renungan dalam perjalanan. Untuk menghilangkan perasaan takut dan
lemahnya niat aku paksakan untuk tidur.
Merak pertama kali
kukenal. Semua penumpang turun dari bus, sambil membawa tiket kami
berbaris menuju kapal yang siap menyeberangkan penumpang ke Bakaehuni.
Kurang lebih dua jam menyeberang, bumi sumatera menunggu kami.
Setelah
menginjakkan kaki pertama kali di Bakaehuni, mendadak ada orang
meneriakkan " Copet........copet, " sambil menunjuk anak yang berlari
kearahku. Agak takut-takut, kaki kucoba menghalangi larinya. Anak itu
menumbur tubuhku dan terpelanting jatuh. Tas i yang dibawanya dilempar
ke arah anak sebayanya yang sudah siap disampingnya. Ditangkapnya tas
itu selanjutnya anak tadi lari menyusup dikerumunan penumpang. Adapun
anak yang terjatuh jadi amukan penumpang.
Nampaknya memang
sudah ada sindikat di lingkungan itu. Seorang pemuda gondrong bertato
melerai amukan massa dan menangkap anak itu. " Maaf kalian jangan main
hakim pak, disini ada hukum. Biar kami urus anak ini ", kata pemuda tadi
seakan petugas yang berpengaruh di pelabuhan.
Tidak
terasa perjalanan kami sudah jauh. Menjelang maghrib bis yang kami
tumpangi berhenti disebuah simpang tiga, yang terkenal dengan simpang
Lasmin. Simpang ini dinamakan simpang lasmin, karena orang yang pertama
kali menghuni disimpang itu Pak Lasmin yaitu seorang perantau dari jawa
sudah lama disitu.Beliau membuka warung tempat para sopir mampir
beristihat makan.
Bersamaan kami turun disitu seorang gadis seven
teen dan ibu-ibu sekitar usia empat puluhan tahun. Rupanya juga penduduk
transmigrasi searah dengan tujuanku.
Anak tersebut sekilas mengingatkanku setengah bulan yang lalu sebelum aku berangkat ke Sumatera.
Seorang
gadis usia 17 tahunan bersekolah di Madrasah Aliyah Negeri, tepatnya
dekat terminal Klaten. Dia disamping mempunyai keahlian mengajar ngaji
anak-anak juga terampil dibidang musik. Sambil sekolah dia mengabdikan
diri mengajar ngaji dan membantu kesenian Qasidah ibu-ibu pengajian
Nurul Huda di kampung kami. Dilaksanakan mulai pukul 2 siang sampai
habis sholat isya' seminggu tiga kali. Berangkat dan pulang kami antar.
Sudah
tiga bulan lebih pekerjaan itu ditekuni, semata-mata untuk pengabdian.
Adapun honornya lima belas ribu rupiah, kami usahakan dari infak dan
iuran anggota.
Apakah hari itu naasku atau justru awal dari
keberuntungan. Malam itu aku mendapat jatah mengantarkannya pulang.
Dengan motor Yamaha L2S aku antarkan Siti Mudrikah nama gadis itu pulang
ke rumahnya di Desa Jogo Dayoh.
Semangat pasti ada,
karena tidak biasa aku mengantarkannya. Biasanya aku menyiapkan
peralatan latihan sedangkan soal antar jemput sudah disiapkan oleh
teman-temanku.
Sampai disimpang STM Kristen Klaten ada tiga anak
bujang melintas dijalan. Sepeda motor kujalankan pelan-pelan. Mendadak
stang kanan ditarik dan aku terpelanting, jatuh. Belum sempat aku
berdiri, anak itu memaki-makiku menganggap aku kurang hati-hati. Belum
sempat aku menjawab, tangan kanannya sudah melayang dikening sebelah
kiri. Belum hilang dari rasa kagetku mendadak punggungku dihantam kaki
orang dibelakangku.
Aku mencoba bersabar, " Cukup mas ini ada
masalah apa dengan saya ? " Belum aku mendapatkan jawaban tangan kanan
lawan yang kuajaka bicara sudah mengarah kemukaku. Tangan ku tangkap dan
kuletakkan ke pundakku, kutarik ke bawah. Anak itu menjerit. Sedangkan
kaki kananku kuinjakkan keras kekaki kanannya. Saat yang bersamaan kaki
temannya mengarah ke ulu perutku. Perhatianku pindah menghadapi lawan
didepanku. Kakinya bisa kutangkap, sedangkan kakiku kuayunkan keras
tepat dikemaluannya. Dua bujang tanggung sudah menemukan balasanku.
Keduanya hanya sibuk dengan perasaan sakitnya. Satunya aduh-aduh menahan
tangannya, sedang yang agak kecil mengaduh menahan rasa sakit
kemaluannya.
Aku kaget..........kayu sebesar ibu jari kaki nyabet
punggungku. Terdorong semangat ada gadis disampingku, rasa sakit bisa
sedikit berkurang. Yang menonjol perasaan berani menghadapi resiko. Dua
kali sabetan kayu mengenai punggung dan tangan kiriku. Sabetan yang
ketiga, belum sempat diayunkan anak itu kuterjang dan jatuh.
Nanggung......... aku salto dan jatuh tepat kakiku mengenai tangannya.
Ketiganya lari sambil menahan sakit.
Satu anak tidak lagi mampu berlari, nampaknya tangannya patah.
" Apa salahku Mir, kok mas Joko yang gak tau apa kamu pukuli ?"
Aku
menemui anak itu menanyakan masalahnya apa, kenapa harus mencegat
perjalananku. Ternyata mereka anak-anak suruhan. Siapa biang keladinya
sudah aku ketehui.
Sesampai dirumah Siti, aku menyerahkan anak itu kepada orang tuanya dan buru-buru pulang.
Tanpa basa-basi aku kembalikan motor kepada pemiliknya, seakan tidak ada apa-apa aku segera minta pamit.
"
Ngapa ngelamun bang, ayo naik ! " Oh ternyata sudah ada truck yang
biasa ngangkut ikan asin. Dengan mobil teruck itu aku melanjutkan
perjalanan ke lokasi.........
15 Juli
1985, kurang lebih pukul 23.00 aku dan temanku Dwi Wuryanto memasuki
rumah bapak Suroto yang mengantarkan kami ke Sumatera. Selama dua hari
perjalanan sejak berangkat tanggal 13 Juli 1985 start dari Klaten Pukul
18.30. Meskipun capek dan badan berbau ikan asin, mengingat ada beberapa
tetangga yang menengok kehadiran kami, terpaksa melayani ngobrol sambil
bersandar di tempat tidur.
Setelah berbasa-basi dengan mereka,
kurang lebih pukul 01.00 aku mandi di sumur tetangga menggunakan lampu
badai untuk menerangi kamar mandi.
Sumur yang hanya dipagari kayu
dengan tempat mandi papan, aku merasakan dinginnya air pada malam itu
tetapi badan terasa segar. Selanjutnya kami tidur nyenyak, sehingga hari
pertama di Sumatera diawali bangun agak siang.
Akivitasku selama
dua minggu di rumah Pak Suroto, mencangkul, membakar kayu dan babat
ilalang. Karena makan yang tidak teratur dan pekerjaan yang berlebihan
membuat badanku kurus dan hitam karena panasnya udara.
Selama tiga
belas hari perasaan kurang nyaman sehingga aku memutuskan untuk pindah
dengan diawali kejadian yang tidak baik. Aku bekerja juga butuh makan,
namun setiap kali makan disamping tidak memakai jadwal yang teratur
harus kerja dulu meskipun tidak sarapan.
Aku mau ke Jambi rencana
mencari saudara disana. Tetapi oleh Pak Asep ( RT ) tempat tinggalku
waktu itu menahanku dengan alasan aku disuruh menenangkan fikiran
terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan. Perasaan damai selama di
rumah beliau. Sengaja kusibukkan membantu beliau sebagaimana aku
membantu pekerjaan di rumah Pak Suroto. Karena makan dan istirahatku
diperhatikan meskipun kerja keras badanku malah kelihatan sehat.
............
Setyawan Kecil
Dua bulan lebih aku berada di SP 3 ( sekarang Mekarsari ),
Bapak Kalip orang ketiga yang berusaha membantu menahanku memberi jalan
untuk sebuah pekerjaanku. Aku dikenalkan dengan teman-teman bapak yang
mengikuti program Transad yaitu salah satunya Pak Darsim. Beliau
mengantarku ke KUPT ( Kepala Unit Pemukiman Transmigrasi ) agar bisa
diterima ikut mengajar.
Alhamdulillah, disamping berijazah
pendidikan guru disana juga perlu membuka sekolah. Tanpa kesulitan aku
dan Dwi diterima jadi honorarium transmigrasi bidang pendidikan, untuk
mengajar di SD.
Baru sekitar sepuluh bulan membuka
sekolah, ada seorang gadis dari jawa melamar kerja di sekolah kami.
Ternyata baru empat bulan berkenalan dengan ibu guru ini Tuhan memberi
ridlonya untuk menjadi pedampingku. Tepatnya akhir Desember 1986 kami
menikah dengan alamiah. Pesta dilingkungan hamparan padi yang sedang
menguning.
Kehidupan mulai nyata, setelah kami menekuninya
bersama seorang isteri. Tanpa persiapan modal hidup, hanya sebuah
keberanian, keyakinan, ketekunan, kesabaran dan kebersamaan
alhamdulillah tidak banyak kesulitan yang berarti.
Anak pertama
karena kesetiaan isteri yang mengerti awal kesulitanku menafkahinya dan
semangatku untuk hidup dan menghidupi keluarga, sebagai inspirasi yang
dititipkankan istriku ke anak pertamaku .....SETYA. Karena laki-laki
SETYAWAN harus ditulis dalam sejarah.
Setyawan kecil
sering menangis, karena belum siap menemukan kesulitan. Tahun 1988 baru
merasakan susu dari negara setelah akhir tahun. Baru sebentar
tersenyum hadir adiknya merebut susu kakaknya. Tidak henti dia
menangis. Hari-harinya dipenuhi dengan tangis. Aku harus bisa menghibur
kedua anakku dan meringankan beban jiwa isteriku. Berangkat dan pulang
sekolah berdua sambil mengasuh kedua anakku.
Tidak
setiap orang gembira dan senang melihat kebersamaanku. Ada juga sifat
iri melihat orang lain bahagia dengan caranya masing-masing. Akupun
harus dipisahkan dengan isteri dan anakku. Aku dipindahkan kerja yang
agak jauh dari tempat tinggalku. Baru bisa mengenal, tidak selamanya
teman bisa menjadi sahabat. Adakala teman menjadi musuh yang
terselubung yang sulit kita ketahui isi hatinya.
Tahun
1992 setelah enam bulan berpisah tempat kerja dengan keluarga, istriku
memperoleh kabar baik. Dia diangkat menjadi CPNS. Disitu aku mencoba
memahami kehidupan, ujian perlu diterima karena dibalik Alloh menguji
sudah disiapkan sesuatu yang lebih baik, bagaima kita menyikapi, itu
yang penting.........
Tri Boys
Aku sudah tahu
harus bagaimana bila kedua anakku menangis. Aku gendong berdua dengan
nyanyian. Kuajak mereka ke rawa bermain lumpur atau kuajak mereka naik
sepeda keliling desa terkadang kuajak mandi di sumur.
Agar
ibunya bisa terbantu dalam mengawasi anak, aku mencoba mengusulkan ada
pembantu dirumah. E.....ternyata tidak bisa mengawasi justru kami
harus selalu mengawasi. Ahirnya kusimpulkan mengangkat anak asuh. Sambil
menyekolahkan anak yang bersangkutan, bisa membantu mengantar
anak-anakku pulang pergi kesekolah.
Semuanya berjalan lancar. Anak angkatku bisa menyelesaikan sekolah di SMP, anak-anak juga ada yang mengawasi bermain.
Waktupun berjalan, kebiasaan mandi di kali atau bermain lumpur sampai adiknya lahir kebiasaan mencari ikan sebagai hobby.
Mereka
lebih banyak mengkonsumsi protein hewani dibanding sayur mayur karena
ikan hanya tinggal mengambil di belakang atau disamping rumah. Ternak
ayamku banyak waktu itu, sehingga untuk kebutuhan konsumsi keluarga
cukup.
Tiga laki-laki kami jadikan satu hati Trio boys,
yang bisa mencuci, masak, menyapu dan apapun pekerjaan perempuan namun
juga harus jadi laki-laki yang terbiasa dengan kesulitan hidup. Jadi
laki-laki yang tidak mudah menyerah, tidak cengeng, tangguh dan sanggup
menghadapi kehidupan. Sejarah hanya milik orang tua, mereka milik masa
depan. Insya Alloh...........
MALAM YANG BERSEJARAH
Tidak biasanya kedua
anakku begitu bangga berfoto di depan kaca dengan gayanya yang kocak (
waktu itu belum lahir anakku yang ketiga ).Begitu juga tidak biasanya
kucing putih tetanggaku gelisah, masuk keluar kamarku dengn suaranya
yang menyayat hati. Dan tak pernah aku tersentak dikala ada cicak
jatuh di depanku, ketika berbincang-bincang dengan iparku. Ada juga
yang tidak pernah kualami, tetapi malam itu sempat kutemukan, ditengah
malam ada tamu mengetuk pintu untuk meminta air minum. Tidak juga
menjadi kebiasaanku, malam itu aku pergi nonton TV di tempat tetangga.
Seminggu itu begitu banyak hal-hal yang membuat aku heran dengan kejadian-kejadian yang kualami.Ada apa ........
Manusia hanya sempat berpraduga, firasat apa yangAlloh berikan kepada hambanya hanya Beliaulah yang Maha Mengetahui.
Bulan
itu bulan puasa, ketika aku diajak tetangga menonton TV di rumah pak
dokter aku merasakan ada ketidaknyamanan dalam perasaanku. Gelisah dan
ingin pulang. Namun perasaan juga tidak enak, karena yang mengajakku
juga masih asyik memperhatikan film yang ditayangkan di TV. Dalam
tayangan itu seorang anak yang menjadi polisi ingin menangkap bandar
narkoba yang tidak lain adalah ayahnya sendiri. Karena begitu
disiplinnya sebagai aparat negara, dia tidak ambil peduli siapa yang
menjadi dalang pengedar narkoba.
Terjadilah baku tembak beberapa
kawanan penjahat dengan para polisi yang pada akhirnya mampu melumpuhkan
pimpinan penjahat yang tidak lain adalah bapaknya sendiri.
Waktu menunjukkan pukul 23.10 aku mengajak tetanggaku pulang, karena
film yang kami tonton juga sudah usai. Karena hanya sekitar 500 m dan
juga kami tempuh dengan sepeda, maka tidak begitu lama kami sampai di
rumah. Ada perasaan aneh dikala memasuki rumah, jantungku
berdebar-debar tetapi apa masalahnya aku sendiri tidak tau.
Tetanggaku
yang mengantarkanku sampai rumah juga buru-buru balik, ingat pintu
rumahnya tidak dikancing serta perginyapun tidak pamit dengan istrinya
karena sudah tidur.
Meskipun ngantuk namun
mataku belum mau kuajak tidur. Kembali malam itu dalam kesendirian aku
duduk di ruang depan terdengar suara dengkuran istriku terasa begitu
jelas, mengingat suasana begitu lengang.
Malam semakin larut, udara dingin mulai merayap kedalam tubuhku kupaksakan mata ini terpejam.
Setelah membaca do'a tidur kurebahkan tubuhku disamping istri dan kedua anakku.
Aku terengah dalam perjalanan. Tak ada satupun pohon ataupun tumbuhan
rumput, yang kulihat hanya hamparan kosong dan jalan terjal. Aku mendaki
sendirian jalan yang begitu jauh seakan tak berbatas.
Aku
berlari.......berlari dan terus berlari bagaikan ada yang kukejar.
Tetapi nun jauh disana tak ada yang kucari namun yang kutemui hanyalah
harapan semu. Aku ragu.......dalam keraguan untuk memilih. Kembali
sudah jauh, bila dilanjutkan tidak kelihatan apa yang kucari, namun apa
yang sebenarnya yang kukejar juga tidak aku ketahui.
Keringat membasahi tubuhku. Suara kucing membangunkan semangatku, semangat untuk terus berjalan.
Mendadak
ada kucing melintas didepanku, memandang tak berkedip. Terlintas dalam
benakku....ada firasat apa, mengapa kucing itu nampak begitu serius
memperhatikanku.
Ketika perjalanan akan sampai, kulihat disana ada
air terjun, aku dicegat oleh sekelompok manusia bertopeng. Mereka
membawa berbagai macam senjata. Aku dikejar........aku berlari dan terus
berlari. merekapun mengejarku sampai aku tertangkap. Tanpa ampun aku
dipukulinya. Kedua kakiku dihantam dengan sebilah kayu. aku menjerit
minta tolong, tetapi tak satupun ada manusia yang menolongku. Aku jatuh
kemudian mereka mengikatku. Mereka memaksaku untuk memberi uang dan
terus memaksaku sambil memukuli wajahku.
Ternyata aku bukan
bermimpi, tetapi aku menemui kenyataan. Perutku terasa mual, tidak tau
bahwa aku sudah ditindih oleh seorang manusia bertopeng dengan pisau
disodorkan pada wajahku.
Aku berontak sudah tidak ada tenaga, tanganku sudah terikat kedua kakiku terasa nyeri , kepala juga terasa sakit.
Remang-remang
kulihat wajah terselubung plastik menindih perutku dengan menodongkan
pisau. Kedua anakku terlihat duduk terpaku disampingku, tak mampu
berbuat apa-apa.
Aku berdzikir laa ilaha ilalloh, seakan tidak
terjadi apa-apa sekali-kali kuberteriak minta tolong. Aku sempat
mengajak kedua anakku untuk melakukan hal yang sama.
Kudengar dikamar depan istriku mengaduh, berontak dan berlari.
Tiada berapa lama, suasana lengang........sepi. Merekapun berhamburan pergi. Ternyata aku dirampok oleh sekelompok berandalan.
Tiada berapa lama tetangga berdatangan menolongku, ketika para perampok
sudah pergi. Dengan senjata sabit, kayu dan lampu senter. Aku
digendong oleh bapak Kepala Dusun, karena kakiku seperti sulit
digerakkan. Begitu pula kedua anakku dipapah dibawa kerumah sekdes.
Isteriku terkapar di kamar beliau ditunggui oleh bu sekdes dengan wajah
berlumuran darah.
Pagipun datang, banyak orang datang mengunjungi kami. Diantaranya Pak Kades dan keamanan desaku.
Aku
ditanya banyak hal, namun aku menjawab tidak tau. Karena kejadian itu
disamping gelap, juga begitu cepat terjadinya.............Saya hanya
berharap semoga Alloh menyadarkan, mungkin mereka karena lupa bahwa
hidup bukan untuk menyakiti...